Berkenalan dengan Buku ala saya

​Tema:

Bagaimana Orangtua Mengenalkan Aku Pada Buku

image

Jaman saya anak-anak saat duduk di Sekolah Dasar dulu jika ditanyakan hobinya apa?
Pasti menjawab dengan “membaca”.
Berlanjut sampai saat ini. Awalnya suka buku dulu bagaimana ya, hampir tidak ingat. Tapi ada beberapa hal yang tentunya secara spontan mendekatkan saya pada kecintaan terhadap buku, yaitu: lingkungan yang mendukung, mudah dibawa dan murah.

Poin pertama. 
Lingkungan Mendukung.

image

Sebagai anak pertama, cucu pertama, dari anak paling tua Eyang, saya tumbuh dan besar dalam lingkungan yang tidak ada kawan main. Apalagi adik baru lahir setelah saya berusia 13 tahun. Sepupu pertama pun lahir 8 tahun setelah saya lahir.
Sebelum punya teman di Taman Kanak-Kanak, teman-teman saya justru para om dan tante yang saat itu masih kuliah atau SMA. Mereka berkutat dengan buku-buku. Beli buku bekas di area soping (istilah untuk shopping area, penulis) yang terkenal di Jogja. Dan para om tante ini sering ajak saya kesana. Disana pun menjual buku-buku anak-anak bekas yang murah.
Seingat saya sih sekitaran dongeng dan legenda penjuru nusantara seperti; Timun Mas, I Kebo Iwa, Malin Kundang, Sangkuriang, Cindelaras, Loro Jonggrang dan sebangsanya.
Tulisan sedikit, ilustrasi besar-besar. Hanya saja mereka suka kelihatan keberatan kalau disuruh menceritakan. Sekarang baru paham mungkin mereka sibuk dengan tugas sekolahnya.
Entah bagaimana awalnya hingga akhirnya di usia belum 4 tahun (menurut cerita para orang tua), saya sudah lancar membaca.
Saat itu, membaca sudah mengantarkan saya ke alam penuh imajinasi yang menemani hari-hari tanpa merepotkan para orang dewasa di sekitar. Mungkin kemudian dijadikan senjata ya oleh orang dewasa di sekeliling saya untuk momong saya tinggal sodorkan majalah atau buku anak-anak. Bahkan ada salah satu om saya yang ajak saya nemenin dia ke rumah pacarnya dengan sogokan majalah ananda. Hahaha motifnya apa juga saya kurang paham hingga sekarang.
Papa saya yang saat itu masih pendidikan setiap pulang travelling juga selalu belikan saya buku-buku tipis ringan penuh gambar bahkan buku berbahasa Inggris. Sayangnya sudah tidak ada jejaknya buku-buku tempo dulu itu. Tapi bayangan bentuk dan ilustrasinya rasanya masih terlekat erat dalam ingatan yang terbatas ini.

Poin kedua.
Mudah dibawa.
Saat teman-teman suka bawa boneka atau mainan anak perempuan kemana-mana, saya sudah merasa ribet. Buku jadi pilihan teman perjalanan jika saya diajak berkunjung ke rumah saudara atau kawan orangtua dan para om tante tadi. Membaca di perjalanan tidak sama sekali membuat mata saya sakit ketika itu. Alhamdulillah hingga saat ini saya tidak menggunakan kacamata akibat kegemaran saya ini.

Poin ketiga. 
Murah.
Maksudnya memang buku-buku yang dibeli pun yang murah masa itu hehehe.
Saat itu anak-anak perempuan dari kalangan berada sudah bermain dengan boneka Barbie. Berhubung mahal, seingat saya waktu itu harganya sekitar 30 ribu rupiah baru bonekanya saja. Sedangkan saya bisa dapat buku seri Lima Sekawan sebanyak 12 buah dengan dana yang sama.
Dan rata-rata toko buku di rentang tahun 1985-1991 memperbolehkan pengunjungnya membaca buku-buku yang dijual di tempatnya. Pilihan majalah anak yang dahulu awal saya baca Bobo, Ananda, Kawanku, Siswa. Kemudian berkembang ke buku-buku detektif cilik semacam Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Trio Detektif, Sapta Siaga, Hawkeye & Amy.
Masih teringat jelas betapa saya berusaha melahap bacaan sebanyak-banyaknya buku di tempat dan hanya meminta satu atau dua buah buku untuk dibeli dan dibaca di rumah. Ternyata prinsip ekonomi secara otomatis tertanam sejak kecil hehehe.

Dari hobi saya sejak kecil ini didukung oleh papa mama saya sehingga sepanjang ingatan saya mereka sangat royal jika saya minta dana untuk beli buku walau saat itu pasti tetap menjadi beban tambahan mereka.
Ternyata kegemaran ini terbawa sampai masa remaja SMA dan masa kuliah untuk membaca berbagai novel remaja/dewasa ala Danielle Steele, Sidney Sheldon. Tapi saya mendapati bacaan dewasa yang penuh dengan intrik ternyata kurang saya sukai walau tetap saya baca.
Sehingga bacaan komik-komik elkom serial Kungfu Boy, Dragon Ball, Serial Cantik dan Topeng Kaca menjadi bacaan yang menyenangkan saat itu. Terutama karena di area tempat saya tinggal tahun 1994-2000 banyak sekali tempat persewaan buku sehingga saya bisa membaca dengan biaya yang tidak mahal.

Lanjut hingga di dunia kerja, saya bertemu dengan teman kos sekaligus teman kantor yang sama suka membaca, sehingga kami sering menghabiskan waktu nongkrong di tempat ngopi untuk habiskan buku yang baru kita beli.

Mengenai pasangan hidup pun sepertinya Allah menunjukkan pasangan yang kegemarannya sama. Bayangan akan rumah akan penuh dengan bacaan alhamdulillah menjadi kenyataan. Walau rak buku hingga reot terdesak beratnya buku-buku, insya Allah kami ingin menularkan kecintaan akan buku pada anak-anak kami dan pada siapa saja yang kami kenal.

image

Baca yuk! 🙂

#bookslover
*ilustrasi diambil dari internet browsing “reading images”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s